Archive for April 22nd, 2008
aku mau bintang
“Kalau kamu mau bintang, tinggal bilang bintang, Honey.“
agak tersentil nih membaca akhir penutup dari buku Marriagable, karangan Riri Sardjono. review singkat, jadi adalah tokoh bernama Flo yang menikah karena dijodohin sama anak temen ibunya bernama Vadin. Flo seorang yang selfish dan karena trauma masa lalunya, menjadi orang yang meragukan adanya cinta. sampai akhirnya keraguannya terjawab dengan hadirnya Vadin.
Flo begitu gengsi untuk menyatakan apa yang dia inginkan, bahkan saat dia yakin bahwa dia juga mencintai Vadin pun, nggak pernah satu kata pun terucap. sampai akhirnya, dia harus kehilangan Vadin, suaminya karena permainan yang dibuatnya sendiri.
Akhirnya, merasa cerita itu terkait dengan kisah hidupku semalam. Mencoba untuk tidak mengatakan apa yang kumau dengan jelas, hanya mencoba mengungkapkannya dengan isyarat-isyarat yang kuharap dapat dimengerti, namun hasilnya.. NIHIL.. tak ada yang mengerti isyarat itu selain aku sendiri.
Berharap dihampiri. Berharap dapat bertemu. Berharap ini .. Berharap itu….. Semua harapan itu inginnya dapat terwujud tanpa aku harus mengungkapkan keinginanku. “Harusnya dia sudah mengerti donk.. itu kan bukan hal yang susah untuk dimengerti” .. hmfiugh, venus & mars memang berbeda.. Bahasa kita memang berbeda..
Gerah dengan keadaan semalam (dan beberapa kasus sebelumnya..) dan merasa tersentil dengan cerita yang baru kubaca, akhirnya berada pada suatu keputusan diri sendiri bahwa mulai saat ini….. akan kusampaikan semuanya dengan cara yang lantang, lugas, tegas, dan terucapkan verbal (selama ini nonverbal.. dan ternyata sinyal-sinyalnya tak tertangkap.. stupid me) ..
semoga lebih dapat mengerti dan dimengerti…
kalau kangen, bilang kangen.. bukan dengan marahan (hihihihihihii… )
aku mau bintang, babe..
marriagable
(diambil dari buku marriagable by riri sardjono)
“Kenapa kamu hanya diam kalau kamu curiga?” sahut Vadin balas bertanya. “Karena aku berharap kamu cerita,” jawabku geram. “Seharusnya kita saling cerita.”
“Dan seharusnya kita saling bertanya kalau salah satu dari kita lupa cerita,” tukas Vadin cepat.
“Lupa??” pekikku jengkel. “Kamu bisa bilang lupa untuk sesuatu sepenting ini??”
“Karena menurutku ini nggak penting!” tukas Vadin bingung.
“Nggak penting??” jeritku lagi.
“Nggak ada apa-apa antara aku sama Nadya selain pekerjaan!” jerit Vadin sambil menatapku tajam.